Benarkah Musik,Lagu,Nyanyian itu Haram? [Hukum Musik]



'hati-hatilah saat saudara merasa bahagia,nyaman,khusyu',tenang dan lebih rajin dalam beribadah NAMUN bukan karena Al-Qur'an dan Sunnah Rasulalloh Salallohu'allaihiwassalam.Karena bukan tidak mungkin,rasa bahagia,tenang,khusyu' yang saudara rasakan hanyalah 'rekayasa' dari talbis Iblis dan tipuan syetan yang merupakan musuh kita yang benar-benar nyata.'
Islam adalah kebutuhan fitrah manusia,Islam diturunkan bukan untuk menghibur seorang hamba,Islam diturunkan bukan pula untuk mengasah kreatifitas seseorang dalam seni,Islam diturunkan bukan untuk agar seorang hamba Allah dapat bernyanyi,Islam ini tentu diturunkan bukan untuk menciptakan riya(selalu ingin dipuji) dan Islam diturunkan bukan untuk dijadikan sebagai profesi dan gaya hidup.

Islam diturunkan untuk menguji serta akan menyelamatkan jin dan manusia bagi mereka yang benar-benar menginginkan sebuah keselamatan dan kebahagiaan,baik di dunia maupun di akhirat. Kenali fitrah hidup ini saudaraku,ketahuilah bahwa tanda-tanda orang yang beriman salah satunya adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya.Bukan dalam arti bermanfaat untuk memenuhi hawa nafsu kebutuhan pribadinya melainkan 'bermanfaat' untuk keselematan di dunianya terlebih untuk di akhiratnya kelak.

Apakah Musik Itu Memang Haram?


Sudah banyak dalil baik dari A-Qur'an maupun Hadits yang menjelaskan tentang keharaman musik,dan hal ini saya pastikan bahwa pengharaman musik sama sekali tidak bertentangan dengan kebutuhan rohani yang 'sehat' dari seorang hamba Allah. Jikalaupun ada yang mengatakan:

'saya hidup dari musik,saya dapat mendekatkan diri pada Tuhan melalui musik,bahkan dengan dan dari musik inilah saya mendapatkan hidayah dalam mengenal Islam,saya sudah cukup merasa tenang dan dengan musik saya lebih khusyuk dalam beribadah'

Saya katakan,

'hati-hatilah saat saudara merasa bahagia,nyaman,khusyuk,tenang dan lebih rajin dalam beribadah NAMUN bukan karena Al-Qur'an dan Sunnah Rasulalloh Salallohu'allaihiwassalam. Karena bukan tidak mungkin,rasa bahagia,tenang,khusyu' yang saudara rasakan hanyalah 'rekayasa' dari talbis Iblis dan tipuan syetan yang merupakan musuh kita yang benar-benar nyata.'

Benar akhi,syetan akan menggoda anak cucu Adam (baca:kita) sampai akhir jaman dengan berbagai cara juga talbis Iblis yang kapan saja,dimana saja yang kita tidak akan dan tidak pula menyadarinya. Adalah musik,ini adalah senjata utama syetan selain sex,harta dan kedudukan. Wow,begitu besar ya saudaraku,peran musik yang dijadikan syetan sebagai senjata utama dalam langkah awal mengeraskan hati anak manusia.Mengapa musik merupakan salah satu senjata utama syetan laknatulloh?
1.Musik adalah hal yang sudah dianggap 'halal' oleh anak cucu Adam.
2.Musik merangkul semua kalangan,anak-anak,dewasa,laki-laki,perempuan,muda,orang tua bahkan jangankan setiap negara,setiap daerah pun memiliki 'tradisi' masing-masing dalam bermain musik.
3.Musik begitu flexible dan memiliki jutaan bahkan mungkin milyaran jenis musik,mulai dari rock,pop,dangdut,campursari,jazz,melayu,bawah tanah dan lain sebagainya.Belum lagi dengan perkembangan hasil cangkokan dari berbagai jenis musik,na'udzubillaah!
4.Musik sudah dianggap jalan terbaik untuk dijadikan sebagai ciri khas suatu kelompok,golongan,agama bahkan mati-matian memperjuangkan musik yang diklaim sebagai ciri khas sebuah negara,Ya Allah,sadarkan kami.
5.Musik identik dengan kesenangan,hiburan,gaya hidup dan lahan mencari keuntungan dunia.
Jika kita lihat fitrah kita saudaraku,untuk apa kita diciptakan? apakah untuk bersenang-senang di dunia ini? apakah kita hidup hanya untuk mati sia-sia saja? Tentu tidak saudaraku, Ada tujuan mengapa Allah memberikan kesempatan kita untuk dapat hidup di dunia ini,mengapa diturunkan seorang Rasul Allah? mengapa ada sebuah dosa dan pahala? mengapa Allah memberikan usia kepada kita? mengapa Allah menciptakan kita berbeda satu dengan yang lain?
Betul akhi,agar kita berfikir dan menyadari kebesaran Allah serta saling menasehati dan menyayangi antar sesama atas apa yang telah disampaikan RasulNya,menunjang ibadah kita dalam mengEsakan Allah Subhanahu wa Ta'ala.Tidak lebih akhi.
Kembali pada permasalahan Apakah Musik Itu Haram?,dari deskripsi mengapa musik dijadikan syetan sebagai senjata utama mereka dalam menggoda anak cucu Adam seperti 5 point diatas,tentu kita sadar sesadar-sadarnya bahwa, tidaklah musik itu membawa kita pada kebahagiaan,ketenangan,kekusyu'an melainkan hanya menyesatkan kita pada jalan yang lurus,yaitu jalan fitrah manusia yang benar-benar menginginkan kebahagiaan sejati disisi Tuhannya.Musik hanya akan mengantar kita pada kekerasan hati (sehingga kadang mengalahkan peran Al-Qur'an,ada jin atau syetan yang berperan serta saat kita mendengarkan musik sehingga kita menjadi sulit untuk menerima dan mendengarkan Al-Qur'an).Dan musik hanya akan mengotori hati kita,karena musik mengantar pada bid'ah yang sesat.

Musik Itu Haram Berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah


Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna sehingga dia menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan.” (QS. Luqman: 6)

Abdullah bin Mas’ud berkata menafsirkan ‘perkataan yang tidak berguna’,  
“Dia -demi Allah- adalah nyanyian.”
Dalam riwayat lain beliau berkata,  
“Itu adalah nyanyian, demin yang tidak ada sembahan yang berhak selain-Nya,” beliau mengulanginya sebanyak 3 kali.

Ini juga merupakan penafsiran dari Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdillah dari kalangan sahabat. Dan dari kalangan tabi’in: Ikrimah, Said bin Jubair, Mujahid, Mak-hul, Al-Hasan Al-Bashri, dan selainnya. (Lihat selengkapnya dalam Tafsir Ibnu Katsir: 3/460)

Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiallahu anhu bahwa dia mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعازِفَ

“Kelak akan ada sekelompok kaum dari umatku yang akan menghalalkan zina, kain sutra (bagi lelaki), khamar, dan alat-alat musik.” (HR. Al-Bukhari no. 5590)

Kalimat ‘akan menghalalkan’ menunjukkan bahwa keempat hal ini asalnya adalah haram, lalu mereka menghalalkannya.
Lihat pembahasan lengkap mengenai keshahihan hadits ini serta sanggahan bagi mereka yang menyatakannya sebagai hadits yang lemah, di dalam kitab Fath Al-Bari: 10/52 karya Al-Hafizh dan kitab Tahrim Alat Ath-Tharb karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah.


Penjelasan ringkas:

Benarkah Musik,Lagu,Nyanyian itu Haram? [Hukum Musik]

Nyanyian secara mutlak adalah hal yang diharamkan, baik disertai dengan musik maupun tanpa alat musik, baik liriknya berbau maksiat maupun yang sifatnya religi (nasyid).
Hal itu karena dalil-dalil di atas bersifat umum dan tidak ada satupun dalil yang mengecualikan nasyid atau nyanyian tanpa musik.
Jadi nyanyian dan musik ini adalah dua hal yang mempunyai hukum tersendiri.
Surah Luqman di atas mengharamkan nyanyian, sementara hadits di atas mengharamkan alat musik. Jadi sebagaimana musik tanpa nyanyian itu haram, maka demikian pula nyanyian tanpa musik juga haram, karena keduanya mempunyai dalil tersendiri yang mengharamkannya.
Sebagai pelengkap, berikut kami membawakan beberapa ucapan dari keempat mazhab mengenai haramnya musik dan nyanyian:

A.    Al-Hanafiah.

Abu Hanifah rahimahullah berkata,

“Nyanyian itu adalah haram dalam semua agama.” (Ruh Al-Ma’ani: 21/67 karya Al-Alusi)

Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari berkata,

“Abu Hanifah membenci nyanyian dan menghukumi perbuatan mendengar nyanyian adalah dosa.” (Talbis Iblis hal. 282 karya Ibnu Al-Jauzi)

B.    Al-Malikiah

Ishaq bin Isa Ath-Thabba’ berkata,

“Aku bertanya kepada Malik bin Anas mengenai nyanyian yang dilakukan oleh sebagian penduduk Madinah. Maka beliau menjawab,

“Tidak ada yang melakukukan hal itu (menyanyi) di negeri kami ini kecuali orang-orang yang fasik.” (Riwayat Al-Khallal dalam Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu anil Munkar hal. 142, Ibnu Al-Jauzi dalam Talbis Iblis hal. 282, dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 98)

Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari berkata,

“Adapun Malik bin Anas, maka beliau telah melarang dari menyanyi dan mendengarkan nyanyian. Dan ini adalah mazhab semua penduduk Madinah.” (Talbis Iblis hal. 282)

C.    Asy-Syafi’iyah.

Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

“Aku mendapati di Iraq sesuatu yang bernama taghbir, yang dimunculkan oleh orang-orang zindiq guna menghalangi orang-orang dari membaca AL-Qur`an.” (Riwayat Abu Nuaim dalam Al-Hilyah: 9/146 dan Ibnu Al-Jauzi dalam Talbis Iblis hal. 283 dengan sanad yang shahih)

Taghbir adalah kumpulan bait syair yang berisi anjuran untuk zuhud terhadap dunia, yang dilantunkan oleh seorang penyanyi sementara yang hadir memukul rebana mengiringinya.
Kami katakan:
Kalau lirik taghbir ini seperti itu (anjuran zuhur terhadap dunia) dan hanya diiringi dengan satu alat musik sederhana, tapi tetap saja dibenci oleh Imam Asy-Syafi’i, maka bagaimana lagi kira-kira jika beliau melihat nasyid yang ada sekarang, apalagi jika melihat nyanyian non religi sekarang?!
Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiah berkata mengomentari ucapan Asy-Syafi’i di atas,

“Apa yang disebutkan oleh Asy-Syafi’i bahwa taghbir ini dimunculkan oleh orang-orang zindiq adalah ucapan dari seorang imam yang mengetahui betul tentang landasan-landasan Islam. Karena mendengar taghbir ini, pada dasarnya tidak ada yang senang dan tidak ada yang mengajak untuk mendengarnya kecuali orang yang tertuduh sebagai zindiq.” (Majmu’ Al-Fatawa: 11/507)

Ibnu Al-Jauzi berkata,
“Murid-murid senior Asy-Syafi’i radhiallahu anhum mengingkari perbuatan mendengar (nyanyian).” (Talbis Iblis hal. 283)

Ibnu Al-Qayyim juga berkata dalam Ighatsah Al-Luhfan hal. 350,

“Asy-Syafi’i dan murid-murid seniornya serta orang-orang yang mengetahui mazhabnya, termasuk dari ulama yang paling keras ibaratnya dalam hal ini (pengharaman nyanyian).”

Karenanya Ibnu Al-Jauzi berkata dalam Talbi Iblis hal. 283,

“Maka inilah ucapan para ulama Syafi’iyah dan orang-orang yang baik agamanya di antara mereka (yakni pengharaman nyanyian). Tidak ada yang memberikan keringanan mendengarkan musik kecuali orang-orang belakangan dalam mazhabnya, mereka yang minim ilmunya dan telah dikuasai oleh hawa nafsunya.”

D.    Al-Hanabilah

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata,

“Aku bertanya kepada ayahku tentang nyanyian, maka beliau menjawab, “Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan di dalam hati, saya tidak menyukainya.” (Riwayat Al-Khallal dalam Al-Amru bil Ma’ruf hal. 142)

Ibnu Al-Jauzi berkata dalam Talbis Iblis hal. 284,

“Adapun nyanyian yang ada di zaman ini, maka terlarang di sisi beliau (Imam Ahmad), maka bagaimana lagi jika beliau mengetahui tambahan-tambahan yang dilakukan orang-orang di zaman ini.”

Kami katakan: Itu di zaman Ibnu Al-Jauzi, maka bagaimana lagi jika Ibnu Al-Jauzi dan Imam Ahmad mengetahui bentuk alat musik dan lirik nyanyian di zaman modern seperti ini?!

Kesimpulannya:

Ibnu Taimiah rahimahullah berkata,

“Imam Empat, mereka telah bersepakat mengharamkan alat-alat musik yang merupakan alat-alat permainan yang tidak berguna.” (Minhaj As-Sunnah: 3/439)

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata,

“Hendaknya diketahui bahwa jika rebana, penyanyi wanita, dan nyanyian sudah berkumpul maka mendengarnya adalah haram menurut semua imam mazhab dan selain mereka dari para ulama kaum muslimin.” (Ighatsah Al-Luhfan: 1/350)

Al-Albani rahimahullah berkata dalam Tahrim Alat Ath-Tharb hal. 105 berkata,

“Para ulama dan fuqaha -dan di antara mereka ada Imam Empat- telah bersepakat mengharamkan alat-alat musik, guna mengikuti hadits-hadits nabawiah dan atsar-atsar dari para ulama salaf.”

sumber:http://al-atsariyyah.com/haramnya-nyanyian-dan-alat-musik.html
baca selengkapnya » Benarkah Musik,Lagu,Nyanyian itu Haram? [Hukum Musik]

Seputar Kesalahan Dalam Membawa Dakwah Salafy / Salafi





Alhamdulillah,dalam sesi kali ini Insya Allah akan diskusi silang pendapat seputar masalah dakwah salafy / salafi.Dakwah salafiyah bukan sekedar menyampaikan syari'at dan akhlak sesuai Al-Qur'an dan sunnah,namun harus sesuai pula dengan pemahaman para salafus shalih.
Islam bukan sebuah trend,gaya hidup maupun sekedar pengakuan,namun Islam adalah sebuah pedoman hidup berdasarkan syari'at yang benar.
Disini kita akan mencoba mengemukakan beberapa khilafiyyah (perbedaan) dalam menyingkapi pemahaman yang beraneka ragam mengenai Islam dalam manhaj salafiyyah,diantaranya:

1.Adab Dalam Menyampaikan Dakwah,Perlukah?
 
Tidak sedikit kita menjumpai dalam masyarakat kita yang sebagian besar justru memiliki ketimpangan dalam masalah akidah.Diantaranya adalah masih banyaknya kesalahpahaman dan minimnya ilmu agama yang lambat laun akan mengantar kita pada kekerasan hati.
Tidak bisa dipungkiri bahwasanya kita memang hanyalah mahluk lemah dan miskin serta tak memiliki daya sekecil atompun.
Sekecil apapun hal yang dapat kita lakukan dan yang kita miliki adalah semata-mata karena izin Allah Subhanahu wa Ta'ala,oleh karenanya sudah kewajiban kita untuk bersyukur dan rendah diri dihadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

 Dakwah salafy adalah hal penting dalam mendukung tersebarnya ajaran Islam yang kaffah dan murni,kita sampaikan meski itu pahit tentu berdasarkan ilmu yang disertai dengan akhlak yang susai syar'i. Akhlak dan syari'at yang benar adalah inti dari sebuah kepribadian yang lurus,semata-mata mengharapkan ridho Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasululloh Salallahu'alaihiwassalam adalah manusia yang berakhlak paling mulia di muka bumi ini,namun saat syari'at dilanggar syri'at tetap sebuah syari'at.
Pernahkah pembaca mendengar kisah tentang seorang perempuan yang menghadap Beliau (Rasululloh Salallahu'alaihiwassalam ) lalu ia mengakui bahwa ia telah berzina? Apa yang Beliau  Rasulalloh perintahkan?
Rasululloh Salallahu'alaihiwassalam,dengan wajah Beliau yang memerah karena sedih dan malu atas apa yang telah menimpa perempuan tersebut,dengan akhlak yang sangat mulia  Beliau menyuruh perempuan tersebut untuk melahirkan dahulu anak dari perzinahan itu,.
Setelah anak dari hasil zina itu lahir,perempuan itupun kembali menghadap Rasululloh Salallahu'alaihiwassalam untuk menerima hukuman dari perbuatan dosanya,namun Rasululloh Salallahu'alaihiwassalam dengan akhlak mulianya,masih menyuruh perempuan tersebut untuk menyusuinya dahulu hingga anak tersebut mulai bisa berjalan.
Setelah beberapa waktu lamanya,perempuan itu kembali menghadap Rasululloh Salallahu'alaihiwassalam.Namun,untuk kesekian kalinya Rasululloh Salallahu'alaihiwassalam masih memerintahkan wanita itu untuk kembali hingga anak hasil zina tersebut kelak sudah dapat memakan makanannya sendiri.
Hingga waktu itu tiba,akhirnya Rasululloh Salallahu'alaihiwassalam menjalankan syari'at Islam yakni merajam perempuan itu hingga terjemputnya ajal,dan ketahuilah saudaraku,kata nabi,nilai pahala tobatnya perempuan tersebut adalah lebih besar meskipun dibandingkan dengan seluruh tobatnya penduduk kota waktu itu.
Kisah ini juga mnjelaskan,bahwa sebuah Syari'at meskipun itu pedih tetaplah sebuah syari'at,tidak dapat diubah apalagi didasarkan dengan perasaan semata dan sekedar anggapan baik.Oleh karena itu,sudah semestinya dalam menyampaikan dakwah harus berdasarkan ilmu meskipun tidak harus dapat menguasai semua ilmu dalam agama terlebih dahulu.

Darimana kita tahu bahwa sebuah syari'at itu benar dan salah? Jawabanya adalah dengan kita belajar,menuntut ilmu dan tak henti-hentinya dalam mencari kebenaran .
Bagaimana menurut anda saudaraku,jika para ulama salaf dalam memahami suatu hadits telah shahih dari Rasululloh Salallahu'alaihiwassalam,sesuai dengan fitrah manusia,kemudian kita disyari'atkan untuk menyampaikan kepada yang belum mengetahuinya,apakah hal seperti ini merupakan kesalahan? apakah lantas  bahwa salafy merasa paling benar?tentu tidak akhi.

Saat hati kita merasa paling benar dengan berdasarkan akal dan perasaan semata apalagi tak ada dalil maka kita perlu koreksi karena kebenaran jika hanya didasarkan pada perasaan semata bisa saja hanyalah sebuah kebenaran yang direkayasa.
Hati kita tentu takkan menolak manhaj salaf dan fitrah diri kita jika kita benar-benar mengenal hakikat kita dalam hidup,untuk apa Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan kita?bukankah hanya untuk menyembahNya?ya,itulah hakikat hidup,kita dan jin diciptakan hanya diperintahkan untuk menyembahNya dan hidup sesuai dengan apa yang ditetapkanNya.
Hidayah bukan datang dari seorang ustadz,kyai atau siapapun itu,melainkan hidayah itu adalah pemberian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.Tugas kita hanya beramar ma'ruf nahi munkar serta menjalankan apa-apa yang Allah syari'atkan dan berusaha menjauhi apa-apa yang Allah larang.
 Adab dalam dakwah salafy memerlukan ilmu,memahami syari'at dan memiliki akhlak yang terpuji.
Dakwah bukan media perdebatan,tapi dakwah membawa pada ketenangan hati,mempererat silaturahmi,membela agama Allah dan semata-mata hanya ridho Allah yang kita harapkan tanpa berbalut praktek syirik dan bid'ah.

Sabar dalam menghadapi segala bentuk pengasingan,penolakan,penyanjungan bahkan sampai bentuk penghinaan kepada diri kita.
Jika suatu dakwah semata-mata mengaharapkan ridho Allah dan ikhlas,Insya Allah kita akan terhindar dari amarah dan egoism seperti tersebut diatas,karena yang kita harapkan adalah pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita harus berusaha mencontoh cara dakwah Rasululloh Salallahu'alaihiwassalam yang memiliki akhlak sangat mulia,lemah lembut kepada sesama,tidak membedakan seseorang itu dari nashara maupun yahudi.
Bahkan pernah Beliau Rasululloh Salallahu'alaihiwassalam kepada seorang yahudi,memijat yahudi tersebut,yang ternyata buta matanya sedang ia (yahhudi) justru menghina dan menjelek-jelekkan Rasululloh Salallahu'alaihiwassalam,dia tidak mengetahui bahwa yang memijatnya saat itu adalah Rasululloh Salallahu'alaihiwassalam.
Ada pula suatu kisah yang menceritakan bahwa Beliau Rasululloh Salallahu'alaihiwassalam pernah setiap pagi pergi ke pasar hanya untuk mengunyahkan korma dari seorang yahudi,ini memberitahukan kepada kita betapa mulianya akhlak beliau,tapi apakah lantas beliau berhenti dalam mendakwahkan Islam?
Kepada ahlul bid'ah,justru kita diperintahkan untuk mendakwahkan dengan cara yang paling lemah lembut yang kita bisa,mereka saudara kita,mereka hanya belum mengetahuinya bisa juga karena hidayah belum datang pada mereka. Kadang sebagai mahluk yang lemah,talbis iblis selalu menghantui kita,kadang datang dalam bentuk riya(ingin dipuji),sombong,merasa terbebas dari segala bi'ah hingga kita merasa amal kita pasti diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala,dan lain sebaginya.
Semoga kita terhindar dari berbagai penyakit hati tersebut yang justru akan mencelakakan diri kita nanti.
Adab dalam dakwah,selain harus berdasarkan ilmu juga harus disertai dengan akhlak yang terpuji,lemah lembut,pantang putus asa,berusaha menepis segala penyakit hati,ikhlas membela agama Allah dan semata-mata hanya mengharapkan ridho dan pahalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.


2.Islam Akan Jaya Di Atas Manhaj yang Benar
 
Mengapa Islam di Indonesia rentan dengan perpecahan,maraknya bid'ah yang mengantar pada kekerasan hati yang akan menimbulkan pemahaman yang sesat serta kurang kompaknya para kaum muslimin? Ya,karena Islam yang kita yakini mungkin saja belum sesuai dengan syar'i,dan hal ini selain dapat meracuni akidah kita juga akan perlahan menggiring kita pada kesesatan.

Seperti maraknya bom bunuh diri (teroris orang bilang),kriminalitas karena kebutuhan ekonomi,dan banyaknya para kyai yang justru berjubah agama namun melakukan praktek syirik,dan pesimisnya para kaum muslimin dengan bantuan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bukankah Allah Subhanahu wa Ta'ala BERJANJI akan memberikan kehidupan yang luas,tenang,tercukupi dan akan mebela serta memenangkan kaum muslimin?
Tapi mengapa banyak saudara kita di palestina misalnya terpecah belah,terjajah dan mana bantuan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang dijanjikan?
Mengapa banyak kaum muslimin yang bunuh diri baik karena himpitan ekonomi maupun bermodus jihad? Mengapa banyak para kaum muslimin yang pesimis dengan bantuan Allah lalu mereka menghalalkan segala cara meskipun harus melanggar syari'at agama?

Saya bertanya kembali pada saudara dan pembaca yang budiman,dari pertanyaan-pertanyaan diatas apakah  berindikasi semua ini adalah kesalahan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala? Mana bantuan yang Allah janjikan? 

Ketahuilah saudaraku,SEMUA ADALAH SALAH KITA,karena dosa-dosa kita dan mungkin karena kita juga belum berjalan diatas manhaj yang haq,manhaj yang sesuai dengan pemahaman para salafush shalih yang mana mereka (para salaf) dapat menjalankan dan menyebarkan Islam dalam kekompakan .

Apakah kita kira mereka berjuang tanpa bantuan Allah Subhanahu wa Ta'ala?
Islam ini akan jaya saat berjalan diatas manhaj yang haq,bebas dari berbagai macam bid'ah,kesyirikan,thaghut dan khurofat serta mencoba selalu bersatu atas nama Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Maka yakin dan percayalah bantuan Allah akan memenangkan kita dari segi apapun dan dari segala bidang aspek dalam kehidupan ini,baik itu karena himpitan ekonomi,sosialisasi,keluarga maupun didalam menjadi warga suatu negara.


3.Apakah Salafy Selalu Merasa Paling Benar?
 
Para pembaca yang budiman,seandainya mendapatkan suatu kesimpulan dalam suatu ilmu,saya asumsikan seandainya saudara ditanya salah seorang teman saudara dan teman andapun bertanya kepada anda; 'apakah menurut anda benar bahwa 2+3=5?' Jika anda sudah mengerti dan paham serta berani menyimpulkan sebuah keputusan dari pertanyaan teman anda tersebut,tentu anda telah yakin seyakin-yakinnya bahwa 2+3=5 adalah BENAR! dan sudah menjadi kepastian bahwa anda memang harus merasa benar.
Demikian juga dengan ilmu hadits,jika sanadnya telah shahih dan telah jelas disepakati oleh semua ulama dan tak ada pertentangan untuk itu,baik dari ulama maupun dari imam yang empat,apakah kita masih meragukan hal tersebut?

Seperti contoh hadits shahih tentang memelihara jenggot dan hadits sahih tentang dilarangnya isbal(pakaian laki2 yang menjulur hingga melewati mata kaki),kita lihat - apakah kedua hadits tersebut palsu,lemah?
Sama sekali TIDAK,bahkan semua ulama baik imam yang empat tak ada khilafiyyah masalah ini,tapi lihatlah saudaraku,sebuah dalil meskipun itu sudah terbukti shahih,baik dan kuat masih saja kini lambat laun telah dirubah oleh orang-orang yang nafsunya tak ingin dibatasi.

Dalil kini sudah ditelan oleh jaman,dan ingat saudaraku,ISLAM BUKAN TIDAK SESUAI DENGAN JAMAN,TAPI JAMAN YANG SUDAH KELUAR DARI ISLAM,LANTAS MASIHKAH ISLAM SESUAI DENGAN JAMAN DISAAT JAMAN INI SUDAH KEMBALI SEPERTI PADA JAMAN JAHILIYYAH?
baca selengkapnya » Seputar Kesalahan Dalam Membawa Dakwah Salafy / Salafi

Hadits Qudsi : Allah Maha Pemberi,Pengampun dan Maha Penyayang




يا عبادي كلكم جائع إلا من أطعمته فاستطعموني أطعمكم ...

Wahai hamba-hamba-Ku…, sesungguhnya kalian semua adalah lapar kecuali mereka yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku akan memberi makan kepada kalian,

يا عبادي كلكم عار إلا من كسوته فاستكسوني أكسكم

Wahai hamba-hamba-Ku…, sesungguhnya kalian semua adalah tidak berpakaian kecuali mereka yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku akan memberi pakaian kepada kalian,

يا عبادي إنكم تخطئون بالليل والنهار وأنا أغفر الذنوب جميعا فاستغفروني أغفر لكم

Wahai hamba-hamba-Ku…, sesungguhnya kalian berbuat dosa diwaktu malam dan siang sedangkan Aku mengampuni seluruh dosa, maka mohon ampunlah kalian kepada-Ku niscaya Akan memberi ampun kepada kalian, ...

Luasnya Ampunan dan Kasih Sayang Allah (al-Adzkar li-Syaikhil Islam al-Imam an-Nawawi asy-Syafi'i)

Sering kita jumpai berbagai kesulitan dalam menjalani kehidupan ini,mulai dari kesulitan materi maupun masalah sosial.Tidak sedikit pula saudara-saudara kita yang sampai rela bunuh diri berbuat kejahilan karena minimnya ilmu tentang agama.
Dan tak jarang kaum muslimin pula kita melakukan segala hal untuk memenuhi kebutuhan hidup,meskipun harus dengan cara yang jelas dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta'la.
[berita muslim sahih - salafy online - ahlussunnah wal jama'ah]

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berjanji akan mengabulkan semua do'a hamba-hambaNya.
Jikalaupun belum dikabulkan,kita harus selalu berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala karena bisa saja justru kita yang belum mengerti,memahami dan mengamalkan tentang apa-apa syarat diterimanya sebuah do'a.

Allah Subhanahu wa Ta'ala dalah Dzat yang serba Maha,Maha Pemberi,Pengampun dan Maha Penyayang.
Berikut adalah hadits Qudsi yang semoga dapat menjadikan kita semakin bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.



يا عبادي إني حرمت الظلم على نفسي وجعلته بينكم محرما فلا تظالموا

Wahai hamba-hamba-Ku…, sesungguhnya Aku mengharamkan berbuat dzalim (atas) diri-Ku dan aku juga mengharamkan pula ...diantara kalian maka janganlahkan kalian berbuat aniaya (dzalim),

يا عبادي كلكم ضال إلا من هديته فاستهدوني أهدكم

Wahai hamba-hamba-Ku…, sesungguhnya kalian semua adalah sesat kecuali mereka yang Aku beri hidayah maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberi hidayah kepada kalian,

يا عبادي كلكم جائع إلا من أطعمته فاستطعموني أطعمكم

Wahai hamba-hamba-Ku…, sesungguhnya kalian semua adalah lapar kecuali mereka yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku akan memberi makan kepada kalian,

يا عبادي كلكم عار إلا من كسوته فاستكسوني أكسكم

Wahai hamba-hamba-Ku…, sesungguhnya kalian semua adalah tidak berpakaian kecuali mereka yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku akan memberi pakaian kepada kalian,

يا عبادي إنكم تخطئون بالليل والنهار وأنا أغفر الذنوب جميعا فاستغفروني أغفر لكم

Wahai hamba-hamba-Ku…, sesungguhnya kalian berbuat dosa diwaktu malam dan siang sedangkan Aku mengampuni seluruh dosa, maka mohon ampunlah kalian kepada-Ku niscaya Akan memberi ampun kepada kalian,

يا عبادي إنكم لن تبلغوا ضري فتضروني ولن تبلغوا نفعي فتنفعوني

Wahai hamba-hamba-Ku…, sesungguhnya kalian tidak mampu mendatangkan dlarar (bahaya) kepada-Ku dan tidak pula bisa mendatangkan manfaat bagi-Ku,

يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم كانوا على أتقى قلب رجل واحد منكم ما زاد ذلك في ملكي شيئا

Wahai hamba-hamba-Ku…, seandainya salah seorang diantara kalian berbuat taqwa sejumlah ketakwaan orang-orang dari dahulu hingga akhir, baik manusia maupun jin, niscaya semua itu sedikit pun tidak menambah kekuasaan (kerajaan) –Ku,

يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم كانوا على أفجر قلب رجل واحد ما نقص ذلك من ملكي شيئا

Wahai hamba-hamba-Ku…, seandainya salah seorang diantara kalian berbuat jahat sejumlah kejahatan orang-orang dari dahulu hingga akhir, baik manusia mapun jin, niscaya semua itu sedikit pun tidak mengurangi kekuasaan (kerajaan)-Ku,

يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم قاموا في صعيد واحد فسألوني فأعطيت كل إنسان مسألته ما نقص ذلك مما عندي إلا كما ينقص المخيط إذا أدخل البحر

Wahai hamba-hamba-Ku…, seandainya orang-orang yang dahulu (awal) hingga akhir, baik manusia maupun jin, semua berdiri pada suatu tempat kemudian memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan pada tiap-tiap kalian apa yang diminta, niscaya semua tidak sama sekali tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku selain sebagaimana berkurangnya jarum jahit ketika dimasukkan kelautan,

يا عبادي إنما هي أعمالكم أحصيها لكم ثم أوفيكم إياها فمن وجد خيرا فليحمد الله ومن وجد غير ذلك فلا يلومن إلا نفسه

Wahai hamba-hamba-Ku…, sesungguhnya semua itu merupakan amal (perbuatan) kalian yang Aku perhitungkan bagi kalian kemudian Aku memberikannya secara penuh kepada kalian, maka barangsiapa mendapatkan kebaikan hendaknya bersyukur (memuji) kepada Allah, sedangkan barangsiapa yang mendapatkan selain yang demikian maka janganlah kalian mencela kecuali pada diri sendiri,


Dari Shahih Muslim no. 4674, disebutkan didalam Syu’abul Iman lil-Imam al-Baihaqi asy-Syafi’i no. 6823, Riyadlush Shalihiin & al-Adzkar li-Syaikhil Islam al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i, Hilyatul Awliyaa’ li-Abi Nu’aim al-Ashbahani, dan lain-lain.
baca selengkapnya » Hadits Qudsi : Allah Maha Pemberi,Pengampun dan Maha Penyayang

Mutiara Hadits : Jaminan Ampunan Dosa pada Puasa Bulan Ramadhan







شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ كَتَبَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَا مَهُ وَ سَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ. فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ اِيْمَانًا وَاَحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُو بِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ اُمُّهُ.





"Bulan Ramadhan adalah bulan yang Allah mewajibkan kalian berpuasa, dan aku mensyariatkan bagimu ibadah pada malam harinya. Maka, barangsiapa yang puasa pada bulan Ramadhan dan beribadah pada malam harinya karena iman dan mengharap ridho Allah, maka ia keluar dari berbagai dosa, sebagaimana kesucian seorang anak yang baru dilahirkan oleh ibunya."


baca selengkapnya » Mutiara Hadits : Jaminan Ampunan Dosa pada Puasa Bulan Ramadhan

Do'a Berbuka Puasa yang Shahih (Sesuai Sunnah)

doa buka puasa manhaj salaf sesuai sunnah bukan bid'ah.


ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

"Dzahabadh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah."
"Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)"
(HR. Abu Dawud, 2/306 no. 2357, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra, 2/255, ad-Daruquthni, 2/185, al-Baihaqi, 4/239, dari hadits Ibnu ‘Umar dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani.)

Perlu diketahui bersama bahwa ketika berbuka puasa adalah salah satu waktu terkabulnya do’a.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,



ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terdzolimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.
(Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7/194).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka puasa beliau membaca do’a berikut ini,



ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

"Dzahabadh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah."

"Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)"
(HR. Abu Dawud, 2/306 no. 2357, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra, 2/255, ad-Daruquthni, 2/185, al-Baihaqi, 4/239, dari hadits Ibnu ‘Umar dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani.)
[berita muslim sahih - salafy indonesia.]

Adapun do’a berbuka yang tersebar di tengah-tengah kaum muslimin yaitu,


اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka).”

Riwayat di atas dikeluarkan oleh Abu Daud dalam sunannya no. 2358, dari Mu’adz bin Zuhroh. Mu’adz adalah seorang tabi’in.
Sehingga hadits ini mursal (di atas tabi’in terputus).Hadits mursal merupakan hadits dho’if karena sebab sanad yang terputus.
Syaikh Al Albani pun berpendapat bahwasanya hadits ini dho’if.
(Lihat Irwaul Gholil, 4/38)

Hadits semacam ini juga dikeluarkan oleh Ath Thobroni dari Anas bin Malik.Namun sanadnya terdapat perawi dho’if yaitu Daud bin Az Zibriqon,dia adalah seorang perawi matruk (yang dituduh berdusta).Berarti dari riwayat ini juga dho’if.Syaikh Al Albani pun mengatakan riwayat ini dho’if.
(Lihat Irwaul Gholil, 4/37-38)

Di antara ulama yang mendho’ifkan hadits semacam ini adalah Ibnu Qoyyim Al Jauziyah.
(Lihat Zaadul Ma’ad, 2/45)



sumber:kaeshafiz.wordpress.com.
baca selengkapnya » Do'a Berbuka Puasa yang Shahih (Sesuai Sunnah)